https://bangkalan.times.co.id/
Berita

Jejak Restu Pendirian NU Diulang Lewat Longmarch Bangkalan–Jombang

Minggu, 04 Januari 2026 - 09:44
Jejak Restu Pendirian NU Diulang Lewat Longmarch Bangkalan–Jombang Perjalanan napak tilas Isyarat Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) dari Bangkalan Madura menuju Jombang.

TIMES BANGKALAN, BANGKALAN – Langkah demi langkah dimulai dari Bangkalan Madura, Minggu (04/01/2026). Sejak pagi, ribuan jemaah berkumpul di kawasan Pondok Pesantren Syaikhona Kholil. Dari tempat inilah perjalanan napak tilas Isyarat Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) dimulai, menelusuri kembali jejak sejarah menuju Jombang, Jawa Timur.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan satu abad Nahdlatul Ulama versi Masehi (1926–2026). Dengan berjalan kaki, para peserta mengikuti rute historis yang merepresentasikan perjalanan penyampaian restu pendirian Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Sebanyak 1.000 jemaah dari berbagai daerah tercatat mengikuti longmarch tersebut. Selain peserta terdaftar, perjalanan ini juga diikuti oleh dzurriyah Syaikhona Kholil Madura, dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, serta dzurriyah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari Jombang.

KH Imam Buchori, Cicit Syaikhona Kholil Bangkalan, menjelaskan bahwa jumlah peserta sengaja dibatasi. Menurutnya, antusiasme masyarakat sangat besar sehingga pembatasan diperlukan agar kegiatan tetap berjalan tertib.

Pendirian-Nahdlatul-Ulama-a.jpg

“Kami batasi hanya 1.000 peserta supaya bisa terkontrol. Karena kalau tidak dibatasi akan datang lebih banyak lagi dari berbagai penjuru,” kata KH Imam Buchori.

Perjalanan napak tilas ini dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan dan dijadwalkan berakhir di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Rute tersebut merekam kembali peristiwa sejarah ketika KH As’ad Syamsul Arifin membawa isyarat dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Isyarat tersebut berupa tongkat dan tasbih yang menjadi simbol restu pendirian Nahdlatul Ulama.

Dalam kegiatan napak tilas kali ini, replika tongkat dan tasbih tersebut turut dibawa sepanjang perjalanan sebagai penanda sejarah yang dihidupkan kembali.

Setibanya di Jombang, replika simbol tersebut akan dikirab dari Alun-alun Jombang menuju kompleks Pondok Pesantren Tebuireng. Kirab direncanakan melibatkan para dzurriyah muassis NU bersama ribuan warga Nahdlatul Ulama yang akan menyambut kedatangan rombongan napak tilas.

Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menyampaikan bahwa kegiatan napak tilas ini menjadi momentum penting bagi warga NU untuk mengingat kembali peristiwa berdirinya organisasi tersebut.

“Napak tilas isyaroh jam’iyah NU ini merupakan momentum kita semua untuk mengambil berkah dari peristiwa sakral yang mubarokah,” ujar Gus Yahya.

Ia menambahkan, peristiwa sejarah tersebut menyimpan nilai spiritual yang terus relevan bagi perjalanan NU hingga hari ini.

“Di dalam peristiwa itu ada barokah besar. Saat ini momentum kita semua warga jam’iyah NU terutama jemaah yang ikut perjalanan napak tilas mengambil berkah kembali,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Gus Yahya berharap nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU dapat terus menguatkan peran organisasi di tengah masyarakat.

“Semoga dengan berkah ini NU semakin kuat dan maslahat, dan lestari sebagai pembawa barokah dari para muassis untuk kemaslahatan kita semua, keselamatan serta kemaslahatan bangsa Indonesia dan seluruh umat manusia,” pungkasnya. (*)

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Bangkalan just now

Welcome to TIMES Bangkalan

TIMES Bangkalan is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.